Lynx dan Leena duduk bersila di dekat api unggun. Di depan mereka, panci dan wajan hasil kerja keras kini menjadi pusat perhatian. Sup daging rusa mengepul di panci, dengan potongan besar daging dan daun-daunan hijau yang mereka temukan di hutan. Di wajan, daging rusa goreng berwarna keemasan tampak menggoda, minyak dari lemak rusa membuatnya berkilauan dalam cahaya api.

Leena mengambil suapan pertama dari mangkuk bambu yang berisi sup. Dia meniupnya perlahan sebelum menyeruput. Wajahnya berubah, mata melebar saat rasa hangat dan gurih dari daging menyentuh lidahnya. Namun, dia berhenti sejenak, mengerutkan dahi. "Lynx... ini enak, tapi rasanya... kurang sesuatu."

Lynx menggigit sepotong daging goreng. Teksturnya renyah di luar, lembut di dalam, tetapi setelah beberapa kunyahan, dia mengangguk setuju. "Iya, aku tahu apa maksudmu, Leena. Rasanya kurang asin." Dia menghela napas, menatap makanan di depannya. "Kalau saja kita punya garam. Tubuh kita pasti juga sebenarnya butuh garam."

Leena meletakkan mangkuknya di pangkuan, memandang api unggun dengan ekspresi sedikit murung. "Ya, aku merasa tubuhku mulai lemas belakangan ini. Garam itu penting, kan? Tapi aku bahkan tidak tahu dari mana kita bisa mendapatkannya di pulau ini."

Lynx menyandarkan tubuhnya ke dinding gua, berpikir sejenak. "Mungkin kita bisa mencoba membuatnya dari air laut.Kita akan mencoba membuatnya nanti."

Leena mengangguk pelan, lalu kembali menyeruput supnya. "Meski kurang garam, ini tetap makanan terbaik yang pernah kita buat. Tidak ada lagi rasa gosong atau daging yang keras. Dagingnya jadi jauh lebih empuk."

Lynx tersenyum kecil, merasa bangga dengan apa yang telah mereka capai. "Benar, Leena. Sekarang kita tidak hanya bertahan hidup. Kita mulai membuat hidup di sini jadi lebih nyaman. Itu langkah besar."

Leena memotong sepotong kecil daging goreng dan menggigitnya perlahan. "Dan daging goreng ini... kerenyahannya luar biasa. Bahkan tanpa garam, aku tetap merasa ini seperti pesta."

Lynx tertawa pelan, menggigit daging di tangannya. "Aku tidak pernah menyangka lemak rusa bisa jadi minyak yang sebaik ini. Wajan kita benar-benar bekerja dengan baik."

Leena menatap panci dan wajan di depan mereka dengan senyum bahagia. "Kita harus menjaga alat ini dengan baik, Lynx. Kalau sampai rusak, kita harus mulai dari awal lagi."

Lynx mengangguk. "Betul. Tapi aku yakin, kalau kita berhasil membuat ini, kita pasti juga bisa menemukan cara mendapatkan garam." Dia menggulung lengan bajunya.

Leena tersenyum, merasa harapan kembali tumbuh. "Itu ide bagus, Lynx. Kalau berhasil, kita bisa mulai menambahkan rasa pada makanan kita. Bayangkan saja sup dengan sedikit garam... pasti jauh lebih nikmat."

Mereka melanjutkan makan dengan perlahan, menikmati setiap gigitan meski sederhana. Api unggun menghangatkan mereka di malam yang dingin. Meski makanan mereka masih jauh dari sempurna, kebanggaan atas usaha yang telah mereka lakukan membuat segalanya terasa istimewa.

Setelah selesai, Leena menyandarkan tubuhnya sambil menatap langit-langit gua. "Lynx, aku sadar satu hal. Meski kita kekurangan banyak hal, kita terus belajar. Setiap harinya, kita menjadi lebih kuat."

Lynx menatapnya dengan senyum kecil. "Ya, Leena. Kita adalah tim yang hebat. Aku yakin kita bisa segera keluar dari sini."

Leena mengangguk, matanya mulai mengantuk. "Besok, kita cari cara untuk membuat makanan lebih enak lagi. Aku yakin itu akan membuat semuanya terasa lebih mudah."

Lynx tersenyum, lalu memandang api yang perlahan redup. Malam itu, mereka tidur dengan perut kenyang untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, meski dengan pikiran yang dipenuhi rencana untuk hari esok.

Setelah beberapa hari memperkuat peralatan dan persediaan, Lynx dan Leena memutuskan untuk kembali ke ruangan dengan gambar-gambar misterius yang mereka temukan sebelumnya. Mereka meninggalkan peralatan memasak dan membawa obor-obor baru yang lebih terang, berharap dapat memahami lebih banyak tentang ukiran di dinding.

“Lihat ini,” kata Leena, menunjuk gambar lingkaran besar yang mereka perhatikan sebelumnya. “Apa kau pikir ini hanya simbol biasa? Atau mungkin… peta lain?”

Lynx memperhatikan ukiran itu dengan seksama. Lingkaran itu memiliki beberapa detail baru yang sebelumnya tidak mereka sadari, pola bintang di sekitarnya, dan di tengah lingkaran ada gambar seperti pintu besar dengan cahaya yang memancar.

“Ini seperti portal,” gumam Leena, tangannya menyentuh ukiran itu. “Tapi bagaimana mungkin? Orang-orang zaman dulu menggambar sesuatu seperti ini?”

Lynx mengerutkan dahi. “Atau mungkin bukan orang zaman dulu. Bisa saja seseorang yang lebih modern menggambar ini. Tapi kalau itu benar, kenapa mereka meninggalkan tempat ini?”

Leena mengangguk, tetapi matanya tertuju pada gambar lain di sebelahnya—sebuah lingkaran besar yang mirip dengan planet. “Dan ini? Jika lebih diperhatikan, Ini seperti gambaran bumi… atau mungkin planet lain. Tapi kurasa ini hanya imajinasiku saja?”

“Kita tidak bisa memastikan,” kata Lynx, berusaha tetap rasional. “Tapi kalau benar ini adalah gambaran dari sesuatu yang nyata, orang yang membuat ini pasti memiliki pengetahuan yang lebih dari apa yang bisa kita bayangkan.”

Leena menghela napas panjang. “Jadi, apakah tempat ini hanyalah sebuah tambang, atau ini sesuatu yang lebih besar?”

Lynx berpikir sejenak. “Tempat ini lebih dari sekadar tambang. Gambar-gambar ini, ukiran-ukiran di lorong, semuanya menunjuk pada sesuatu yang lebih. Mungkin ini adalah semacam pusat pengetahuan, atau tempat ritual.”

“Kalau begitu, kita harus mempelajari lebih banyak,” kata Leena tegas. “Kalau kita bisa mengingat semua gambar ini, mungkin kita bisa menemukan petunjuk baru.”

Mereka menghabiskan beberapa jam berikutnya mempelajari setiap detail ukiran di ruangan itu. Leena mencoba menggambar ulang beberapa gambar di tanah menggunakan tongkat kayu agar bisa mengingat, juga mencatat yang menurut mereka penting, sementara Lynx memperhatikan pola dan simbol yang mungkin memiliki arti tersembunyi.

“Gua ini memiliki banyak jalur,” kata Lynx “Rasanya meski berbahaya tapi sangat disayangkan jika kita tidak memeriksanya. Siapa tahu kita menemukan petunjuk penting lain ditempat ini.”

Leena menatap Lynx dengan serius. “Kalau begitu, kita harus menjelajahinya. Kita tidak bisa meninggalkan tempat ini dan melewatkan begitu saja informasi berharga.”

Lynx mengangguk. “Tapi kita harus melakukannya dengan hati-hati. Kita tahu makhluk-makhluk di gua ini tidak akan membiarkan kita melewati jalur mereka dengan mudah.”

Dengan senjata yang lebih baik dan persediaan makanan yang cukup, Lynx dan Leena meninggalkan ruangan itu, membawa rasa ingin tahu yang membara. Mereka kembali ke lorong utama, memilih jalur yang belum mereka jelajahi sebelumnya berdasarkan petunjuk dari ukiran di dinding.

Lorong baru itu lebih sempit, dengan dinding yang mulai terlihat lebih kasar, seolah-olah tidak ada yang pernah melewati tempat itu selama bertahun-tahun. Suara langkah mereka bergema, menciptakan suasana yang semakin mencekam.

“Kita harus tetap waspada,” kata Lynx pelan, memegang parang di tangannya.

Leena menggenggam tombaknya erat-erat, tatapannya penuh kewaspadaan. “Aku siap.”

Di depan mereka, lorong itu bercabang menjadi beberapa jalur kecil. “Kesini,” kata Lynx memilih sebuah jalur sambil memberikan tanda agar mereka tidak tersesat.

Langkah mereka membawa mereka lebih jauh ke dalam kegelapan, menuju bagian gua yang belum pernah mereka jamah sebelumnya. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya bisa berharap bahwa pengetahuan baru dan senjata mereka cukup untuk menghadapi apa pun yang menanti di depan.

Lorong yang mereka lalui semakin gelap dan sempit, dengan udara yang terasa lembab dan berat. Cahaya obor mereka bergoyang mengikuti langkah tergesa-gesa Lynx dan Leena, yang terus menyusuri jalan berdasarkan simbol-simbol di dinding.

Namun, suasana sunyi itu segera pecah. Dari depan mereka, terdengar suara langkah-langkah cepat dan geraman rendah.

“Lynx… ada sesuatu di depan kita!” seru Leena, suaranya bergetar.

Mereka semakin waspada dan bersiap-siap saat melihat bayangan besar mendekat. Sekelompok makhluk mutasi seperti yang mereka temui sebelumnya muncul dari kegelapan. Tubuh mereka seperti perpaduan aneh berbagai binatang, dengan kulit hitam dan mata merah menyala. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dilawan.

“Lari!” teriak Lynx sambil menarik tangan Leena.

Mereka berlari sekuat tenaga, tetapi lorong yang bercabang-cabang membuat mereka kehilangan arah. Lynx memilih satu cabang secara acak, berharap itu adalah jalan keluar, tetapi lorong itu semakin curam dan gelap.

“Ini buntu!” kata Leena panik.

“Tunggu, masih ada jalan disana!” Lynx menunjuk celah sempit di sisi lain lorong. Mereka segera masuk, berharap bisa menghindari para monster yang mengejar.

Namun, nasib mereka berubah dari buruk menjadi lebih buruk. Saat mereka melewati celah itu, mereka tidak menyadari bahaya yang ada di dalamnya.

Di tengah lorong, Leena berhenti sejenak, mencoba mengatur napas. Tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, sesuatu yang besar dan cepat menyerangnya dari kegelapan.

“Lynx!” Leena berteriak ketika seekor laba-laba raksasa menjatuhkannya ke tanah. Tubuh makhluk itu berbulu lebat, dengan delapan kaki tajam dan mata yang berkilauan.

Lynx mencoba menyerang dengan parang, tetapi laba-laba itu terlalu cepat. Ia meraih Leena dengan kaki depannya yang kuat dan membawanya pergi ke kegelapan lorong.

“Leena!” Lynx berlari mengejar, tetapi langkah laba-laba itu terlalu cepat. Hanya jejak darah kecil dan sarang lengket yang tertinggal di jalannya.

Dengan tekad bulat, Lynx terus mengejar jejak laba-laba itu. Lorong semakin lebar, dan bau busuk yang tajam memenuhi udara. Akhirnya, ia tiba di sebuah ruang besar yang dipenuhi sarang laba-laba tebal seperti kapas.

Di tengah ruangan itu, ia melihat Leena tergantung di salah satu sudut, terbungkus jaring hingga hanya wajahnya yang terlihat. Di sekelilingnya, ada lebih banyak laba-laba raksasa, masing-masing sibuk dengan mangsanya sendiri.

Lynx tahu dia tidak bisa melawan semuanya. “Aku butuh cara lain,” gumamnya sambil mengamati situasi.

Saat ia mencari solusi, suara geraman dari lorong tempat ia datang menarik perhatiannya. Para monster mutasi yang mengejarnya sebelumnya akhirnya tiba, mengikuti jejaknya hingga ke ruangan ini.

Lynx menyadari ada peluang. “Mereka bisa bertarung satu sama lain,” pikirnya.

Lynx memancing monster-monster mutasi itu dengan suara dan gerakan kecil, memastikan mereka melihat sarang laba-laba penuh makhluk raksasa itu. Begitu mereka menyadari keberadaan laba-laba, para monster itu langsung menyerang, mengaum dengan buas.

Laba-laba besar merespons dengan cepat, melompat dari sarang mereka untuk menghadapi ancaman baru. Pertarungan antara kedua kelompok makhluk itu segera pecah. Monster-monster dan laba-laba bertarung dengan ganas, saling menerkam dan melukai satu sama lain.

Di tengah kekacauan itu, Lynx bergerak diam-diam menuju tempat Leena tergantung. Dengan parang kecilnya, ia memotong jaring yang menahan Leena.

“Leena, aku di sini. Tenang,” katanya pelan.

Leena yang masih sadar, tetapi lemah, mengangguk dengan susah payah. “Cepat… mereka akan melihat kita…”

Setelah berhasil membebaskan Leena, Lynx menggendongnya, mencoba kembali ke lorong tempat mereka masuk.

Saat hendak keluar, mata Lynx menangkap sesuatu di sudut ruangan. Sebuah peti usang berada di dekat salah satu jasad tengkorak manusia yang telah lama mati, jasadnya hampir menyatu dengan sarang laba-laba.

“Kita tidak punya waktu!” bisik Leena dengan cemas.

Lynx segera membawa peti itu dengan cepat lalu kembali ke Leena. “Sekarang kita pergi!”

Dengan langkah tergesa-gesa, mereka berlari keluar dari sarang itu, meninggalkan pertarungan antara laba-laba dan monster mutasi di belakang mereka.

Setelah melewati berbagai lorong dan cabang yang membingungkan, akhirnya mereka berhasil mencapai mulut gua. Matahari pagi yang menyinari mereka terasa seperti keajaiban setelah kegelapan yang begitu panjang.

Leena duduk di atas tanah, mencoba mengatur napas. “Aku… aku tidak ingin masuk ke gua itu lagi,” katanya sambil menatap pintu masuk gua dengan takut.

Lynx duduk di sampingnya, Ia berusaha mencari cara untuk membuka tutup peti namun tidak berhasil.

"Aku tidak menduga melihat manusia lainnya disana, apakah dia teman Chiko dan Sherly?" Tanya Leena dengan penasaran.

"Aku rasa bukan, dilihat dari jasadnya sudah sangat lama ada disana," jawab Lynx sambil tetap berusaha mempelajari cara membuka peti.

"Rasanya peti itu terlihat cukup aneh, Lynx. Jika jasad itu sudah lama, bukankah peti itu juga sudah berumur lama," Leena bertanya sambil memperhatikan peti yang di pegang Lynx.

Akhirnya setelah mempelajarinya, Lynx menemukan sebuah pola. Dia mencoba menggeser-geserkan pola tersebut dan dengan susah payah akhirnya peti terbuka. Dia menemukan isi yang tampaknya penting, beberapa gulungan kertas tua, sebuah cincin, dan sesuatu yang tampak seperti botol kaca kecil berisi benda bulat berwarna hitam keemasan.

Mereka kaget dengan penemuan itu, karena meski dari luar peti terlihat usang, namun didalam peti masih utuh seolah tidak dimakan waktu.

Lynx mengeluarkan gulungan kertas dari peti yang mereka temukan. Ia membuka salah satunya, tetapi kertas itu penuh dengan tulisan aneh yang tidak bisa mereka pahami maksudnya.

“Apa ini?” tanya Leena, mengintip.

“Entahlah,” jawab Lynx, “tapi ini tidak seperti sesuatu yang dibuat oleh penghuni pulau biasa. Ini terlalu… rumit.”

Leena mengangguk, lalu memandang ke arah gua. “Bagaimana mungkin makhluk-makhluk itu ada di setiap terowongan, tetapi tidak saling menyerang sebelum ini? Apa mereka berbagi wilayah?”

Lynx menggeleng. “Mungkin tidak. Tapi aku punya teori. Gua ini mungkin terhubung ke tempat lain. Jika benar, makhluk-makhluk itu mencari makanan lewat jalur tersebut. Bisa jadi mereka keluar ke tempat lain untuk berburu.”

“Jadi… ada lebih banyak gua, lebih banyak makhluk, dan mungkin lebih banyak bahaya di luar sana?” tanya Leena dengan nada takut.

“Sepertinya begitu,” jawab Lynx. “Tapi aku tidak ingin mengetahuinya. Apa pun rahasia gua ini, lebih baik kita menjauh.”

Dengan keputusan itu, mereka meninggalkan pintu masuk gua, membawa peti dan isinya, serta tekad untuk tidak kembali ke tempat berbahaya itu.

Lynx dan Leena duduk di bawah naungan pohon besar tidak jauh dari mulut gua, mencoba menenangkan diri setelah pengalaman mengerikan mereka. Lynx mengeluarkan gulungan kertas lainnya yang mereka temukan di dalam peti tadi, Ia membukanya lagi dengan hati-hati.

Surat itu ditulis dengan huruf-huruf yang aneh tetapi masih dapat dibaca. Tulisan itu tidak seperti bahasa yang biasa mereka temui, tetapi entah bagaimana mereka bisa memahaminya.

“Ini bukan tulisan penduduk biasa,” kata Lynx, alisnya berkerut.

Leena mendekat, menatap surat itu bersama-sama. “Apa itu?” tanyanya.

Lynx mulai membaca surat keras-keras:

"Aku menulis ini sebagai catatan terakhirku, sebuah pengingat bahwa aku pernah ada di tempat ini. Namaku adalah Milo, berasal dari dunia yang berbeda dari tempat ini. Aku tiba di sini melalui sebuah celah dimensi yang tak sengaja kubuka dengan alat yang kubawa. Pulau ini bukan tempat biasa, ada kekuatan kuno yang menjaga wilayah ini."

Leena tertegun. “Orang ini berasal dari dunia lain?”

Lynx mengangguk, melanjutkan membaca.

"Tujuanku adalah kembali ke duniaku menggunakan portal yang sama. Tetapi penduduk asli pulau ini, memiliki kekuatan aneh, menghentikanku. Mereka tidak ingin aku membawa rahasia pulau ini keluar. Aku mencoba melawan, tetapi mereka terlalu banyak dan kekuatan mereka sangat besar. Mereka melindungi sesuatu yang lebih besar dari sekadar pulau ini. Aku tidak tahu apa itu."

Leena menggigil. “Penduduk asli? Jadi, ada orang lain di pulau ini?”

“Bukan hanya orang lain,” kata Lynx, matanya tidak lepas dari surat itu. “Mereka ada banyak dan kuat, kemungkinan mereka berbahaya. Itu artinya mereka jauh lebih berbahaya daripada makhluk yang kita hadapi.”

Lynx melanjutkan membaca surat itu:

"Aku membawa pil yang seharusnya mampu membuka kekuatan tersembunyi dalam tubuh manusia yang memiliki akar spiritual. Aku berencana memberikannya untuk anakku, Lala, namun aku tersesat di dunia ini. Aku percaya ini dapat memberikan kekuatan yang cukup untuk melawan mereka. Tetapi, sayangnya, tubuhku tidak memiliki akar spiritual sehingga tidak berjodoh dengan pil ini."

Leena menatap botol kaca kecil berisi benda bulat hitam yang mereka temukan dalam peti. “Ini pil? Sebesar ini?” tanyanya, suaranya bergetar.

“Sepertinya begitu,” kata Lynx. Ia memegang botol itu dengan hati-hati, seolah-olah pil itu bisa meledak kapan saja.

Surat itu berlanjut:

"Pil ini dapat memberikan kekuatan besar, tetapi jika manusia biasa meminumnya, mereka akan mati karena tidak mampu menahan kekuatannya. Lima tahun aku disini menunggu seseorang yang dapat menolongku, namun belum berhasil menemukan seseorang yang berjodoh. Jika ada yang menemukan surat ini, berhati-hatilah. Pulau ini penuh bahaya yang bahkan aku tidak bisa jelaskan. Aku hanya bisa berharap seseorang diluar sana bisa menemukan cara untuk membuka rahasia tempat ini tanpa menghadapi nasib yang sama denganku."

Lynx selesai membaca dan meletakkan surat itu di tanah. Ia memandang Leena, wajahnya tegang.

“Jadi, orang ini benar-benar berasal dari dunia lain,” katanya. “Dia tidak hanya terdampar di pulau ini seperti kita, tapi dia juga mencoba melarikan diri. Dan gagal.”